← Semua Q&A
Partpedia Partpedia

Insight · Q&A

Bagaimana cara menghitung kerugian biaya akibat downtime produksi?

Jawaban

Perhitungan biaya downtime yang komprehensif jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengalikan lama waktu berhenti dengan target produksi per jam, karena downtime membawa konsekuensi biaya di berbagai lini sekaligus. Komponen paling langsung adalah kehilangan pendapatan dari produk yang seharusnya diproduksi selama periode downtime tersebut, dihitung dari volume produksi yang hilang dikalikan margin keuntungan per unit produk, bukan sekadar harga jualnya, karena biaya bahan baku dan tenaga kerja yang sudah dikeluarkan selama periode itu umumnya tetap ada meski produksi terhenti.

Biaya tenaga kerja yang tetap dibayar meski tidak produktif selama mesin berhenti juga perlu diperhitungkan, ditambah biaya perbaikan itu sendiri mencakup sparepart pengganti dan jam kerja teknisi yang menangani perbaikan. Untuk kasus yang lebih parah, downtime juga bisa menimbulkan biaya tidak langsung seperti penalti keterlambatan pengiriman ke pelanggan sesuai kontrak yang disepakati, kerusakan reputasi yang berdampak pada hubungan bisnis jangka panjang, serta dalam kasus lini produksi yang saling terhubung, efek domino di mana downtime satu mesin memicu penumpukan atau kekosongan material di stasiun kerja lain yang bergantung padanya. Menghitung biaya downtime secara akurat dan konsisten membantu organisasi membuat keputusan investasi yang lebih rasional terkait predictive maintenance, stok sparepart kritis, dan redundansi sistem, karena angka kerugian downtime yang sudah dihitung dengan jelas seringkali jauh lebih besar dari yang dibayangkan sebelum dilakukan perhitungan formal, membenarkan investasi pencegahan yang tadinya dianggap terlalu mahal.

Sumber

Metodologi perhitungan biaya downtime dari literatur reliability engineering dan manajemen operasi pabrik, termasuk kerangka kerja Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebagai dasar analisis kerugian produksi.