Partpedia Partpedia

Wawasan Industri

Ini Rahasia Manajemen Industri Bikin Operasional Berjalan on the Track

Dari lantai pabrik Toyota pasca perang sampai ruang rapat General Electric era Jack Welch, ini kumpulan metode nyata yang bikin operasional pabrik tidak sekadar jalan, tapi jalan sesuai rencana.

Pernah kepikiran nggak, kenapa ada pabrik yang operasionalnya kelihatan tenang dan rapi, seolah semua berjalan otomatis sesuai rencana, sementara pabrik lain isinya cuma pemadam kebakaran terus-menerus, sebentar-sebentar ada masalah baru? Bedanya biasanya bukan soal mesin yang lebih canggih atau modal yang lebih besar. Bedanya ada di sistem manajemen yang dipakai di baliknya, dan kebanyakan sistem itu sebenarnya bukan rahasia dagang, melainkan metode-metode yang sudah teruji puluhan tahun, lahir dari pengalaman pahit perusahaan-perusahaan besar yang pernah nyaris ambruk sebelum akhirnya menemukan caranya.

FONDASINYA DATANG DARI JEPANG: 5S DAN KAIZEN

Cerita ini sebaiknya dimulai dari Jepang pasca Perang Dunia II, ketika para pemimpin di Toyoda Automatic Loom Works, cikal bakal Toyota, sedang mencari cara mengurangi pemborosan di tengah keterbatasan sumber daya. Salah satu solusi paling mendasar yang mereka temukan justru terdengar sangat sederhana: rapikan dulu tempat kerjanya. Dari situ lahir metode 5S, singkatan dari lima kata Jepang, Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, yang di Indonesia sering diterjemahkan jadi 5R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.

Urutannya logis kalau dipikir-pikir. Seiri berarti memilah barang yang benar-benar dibutuhkan dan membuang yang tidak, bahkan ada teknik khusus bernama red tag strategy, menempelkan label merah pada barang yang dicurigai tidak terpakai supaya mudah dipisahkan. Seiton berarti menata barang yang tersisa supaya setiap benda punya tempatnya sendiri yang pasti. Seiso berarti membersihkan area kerja secara rutin. Seiketsu berarti menstandarkan kondisi rapi dan bersih itu supaya tidak kembali berantakan. Dan Shitsuke, yang paling sulit, berarti membangun kedisiplinan supaya empat langkah sebelumnya benar-benar jadi kebiasaan, bukan cuma proyek bersih-bersih sesaat menjelang audit.

Berdampingan dengan 5S, ada filosofi yang lebih besar bernama Kaizen, gabungan dari kata "kai" yang berarti perubahan dan "zen" yang berarti baik, sehingga secara harfiah berarti perubahan menuju kebaikan, atau yang lebih dikenal sebagai perbaikan berkelanjutan. Kaizen inilah yang jadi jiwa dari Toyota Production System, dengan dua pilar utamanya: just in time, memproduksi barang hanya sejumlah dan sesaat sebelum benar-benar dibutuhkan supaya tidak ada stok menumpuk sia-sia, dan jidoka, mekanisme otomatis yang membuat mesin atau lini produksi berhenti sendiri begitu mendeteksi kesalahan, alih-alih terus memproduksi barang cacat dalam jumlah banyak.

KETIKA MASALAH KUALITAS DIUBAH JADI ANGKA: SIX SIGMA

Kalau 5S dan Kaizen soal budaya kerja, Six Sigma soal data dan statistik. Ceritanya bermula di Motorola pada pertengahan 1980-an, ketika seorang manajer penjualan bernama Art Sundry dengan berani mengatakan langsung di depan manajemen bahwa "kualitas kami buruk", sebuah pernyataan yang alih-alih membuatnya dipecat, justru membuka jalan bagi perubahan besar. Seorang insinyur bernama Bill Smith, yang belakangan dijuluki "Bapak Six Sigma", mengembangkan metode ini bersama Mikel Harry, dan pada 1987 Motorola resmi meluncurkan program Six Sigma secara perusahaan. Setahun kemudian, Motorola jadi perusahaan pertama yang meraih Malcolm Baldrige National Quality Award, penghargaan mutu bergengsi dari pemerintah Amerika Serikat.

Nama Six Sigma sendiri diambil dari istilah statistik, merujuk pada target mengurangi variasi proses sampai hanya menyisakan sekitar 3,4 cacat per satu juta kesempatan, sebuah standar kualitas yang sangat ketat. Metodenya biasa dijalankan lewat kerangka kerja bernama DMAIC, singkatan dari Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control, lima tahap sistematis untuk menemukan akar masalah dan memastikan perbaikannya bertahan lama, bukan cuma solusi sementara. Nama Six Sigma makin melejit setelah Jack Welch, CEO legendaris General Electric, mengadopsinya secara masif mulai 1995 dan menjadikannya bagian dari budaya perusahaan, bahkan menghubungkannya langsung dengan kompensasi eksekutif. Sampai akhir 1990-an, lebih dari enam puluh persen perusahaan Fortune 500 sudah menjalankan inisiatif Six Sigma dalam berbagai bentuk, lengkap dengan sistem tingkatan keahlian ala bela diri seperti Yellow Belt, Green Belt, sampai Black Belt.

MENGUKUR APA YANG SEBENARNYA TERJADI: OEE DAN TPM

Banyak pabrik merasa mesinnya "sudah jalan terus", tapi kalau ditelusuri lebih detail, seberapa efektif sebenarnya mesin itu bekerja dibanding potensi maksimalnya? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Seiichi Nakajima lewat konsep OEE, Overall Equipment Effectiveness, yang ia perkenalkan sekitar awal 1980-an lewat Japan Institute of Plant Maintenance sebagai bagian dari metode yang lebih besar bernama Total Productive Maintenance atau TPM.

Rumusnya sebenarnya sederhana: OEE dihitung dari perkalian tiga komponen, Availability atau ketersediaan mesin (seberapa banyak waktu mesin benar-benar berjalan dibanding waktu yang direncanakan), Performance atau kecepatan (seberapa dekat kecepatan aktual dengan kecepatan ideal desainnya), dan Quality atau mutu (seberapa banyak produk yang lolos tanpa cacat dari total yang diproduksi). Angka-angka ini kemudian dikalikan untuk menghasilkan satu skor akhir dalam bentuk persentase. Menurut Japan Institute of Plant Maintenance, pabrik kelas dunia biasanya mencatat skor OEE di atas 85 persen, sementara kebanyakan pabrik pada umumnya justru hanya berada di kisaran 60 persen, kehilangan hampir 40 persen potensi produksinya akibat berbagai jenis kerugian yang biasa disebut "six big losses", mulai dari kerusakan mendadak, waktu setting yang lama, berhenti sesaat, kecepatan yang melambat, sampai cacat produk dan pemborosan saat awal produksi.

FOKUS PADA SATU TITIK LEMAH: THEORY OF CONSTRAINTS

Ada satu lagi pendekatan yang cara berpikirnya cukup berbeda dari yang lain, datang dari fisikawan asal Israel bernama Eliyahu Goldratt, dituangkan dalam novel bisnis yang ia tulis pada 1984 berjudul The Goal, buku yang sampai sekarang sudah terjual lebih dari tujuh juta kopi dan diterjemahkan ke tiga puluh lima bahasa. Uniknya, gagasan manajemen yang cukup rumit ini justru disampaikan lewat cerita fiksi tentang seorang manajer pabrik bernama Alex Rogo yang perusahaannya di ambang penutupan, dan seorang tokoh misterius bernama Jonah yang sebagian pembaca yakini terinspirasi dari sosok W. Edwards Deming, pakar kualitas legendaris.

Inti dari Theory of Constraints sederhana tapi sering diabaikan orang: dalam rantai proses apa pun, kecepatan keseluruhan sistem selalu ditentukan oleh titik tersempitnya, bukan oleh titik yang paling cepat. Percuma mempercepat proses yang sudah lancar kalau ada satu stasiun kerja yang jadi bottleneck dan menahan seluruh alur di belakangnya. Goldratt menawarkan lima langkah berulang: identifikasi kendala sistemnya, manfaatkan kendala itu semaksimal mungkin, selaraskan seluruh proses lain untuk mendukung kendala tersebut, tingkatkan kapasitas kendala itu kalau masih belum cukup, lalu ulangi seluruh siklusnya begitu kendala baru muncul di titik lain.

SATU RODA YANG TERUS BERPUTAR: SIKLUS PDCA

Kalau ditelusuri lebih dalam, hampir semua metode di atas sebenarnya berputar mengelilingi satu siklus dasar yang jauh lebih tua, dipopulerkan oleh W. Edwards Deming lewat apa yang dikenal sebagai siklus PDCA: Plan, Do, Check, Act. Rencanakan perubahan yang ingin dilakukan, jalankan dalam skala kecil dulu, periksa hasilnya secara objektif, lalu putuskan apakah perubahan itu layak diterapkan secara penuh, dibatalkan, atau disempurnakan lagi. Siklus ini terus berputar tanpa henti, dan itulah sebabnya ia sering digambarkan sebagai roda yang terus menggelinding naik, mendorong perbaikan sedikit demi sedikit tapi konsisten dari waktu ke waktu.

JADI, APA SEBENARNYA "RAHASIANYA"?

Kalau semua metode di atas ditelusuri sampai ke akarnya, sebenarnya tidak ada satu pun "rahasia ajaib" tunggal yang bikin operasional pabrik berjalan mulus on the track. Yang ada justru kombinasi dari kebiasaan sederhana yang dijalankan konsisten: tempat kerja yang rapi dan terstandarisasi lewat 5S, budaya perbaikan kecil tapi terus-menerus lewat Kaizen, keputusan berbasis data ketimbang asumsi lewat Six Sigma, pengukuran objektif seberapa efektif mesin benar-benar bekerja lewat OEE dan TPM, keberanian fokus pada satu titik lemah paling kritis lewat Theory of Constraints, dan semuanya diikat oleh satu siklus sederhana yang tidak pernah benar-benar berhenti berputar, PDCA.

Pabrik yang operasionalnya terlihat "berjalan sendiri" bukan berarti tidak ada masalah sama sekali di dalamnya. Bedanya, masalah-masalah itu sudah punya sistem yang jelas untuk dideteksi lebih awal, diukur secara objektif, dan diperbaiki secara terstruktur, jauh sebelum sempat membesar jadi krisis yang harus dipadamkan mendadak.